Saturday, September 25, 2021

Menikmati Indah Pelangi Usaha Ultra Mikro Pasar Kreatif Metro

TERBARU

Jika hujan adalah kesulitan dan matahari adalah kebahagian maka kita membutuhkan keduanya untuk menikmati indahnya pelangi.

Kutipan ini tepat menggambarkan kebangkitan usaha ultramikro di Provinsi Lampung, yang justeru perlahan tumbuh di tengah badai pandemi coronavirus disease (covid-19) menerpa belahan penjuru dunia.

Mayoritas sektor usaha terpukul, pandemi telah mengubah tatanan dunia usaha. Namun, di tangan-tangan kreatif, pelaku usaha Ultra Mikro di Provinsi Lampung justru tumbuh.

Potensi besar ini adalah peluang bagi PT Pegadaian (Persero) untuk membentuk dan mengembangkan ekosistem ultramikro (UMi).

Sebagai upaya untuk menguatkan bisnis pelaku usaha Umi dan UMKM agar naik kelas dan tentunya tumbuh besar.

Bagaimana potensi itu benar benar nyata? Mari kita ikuti liputanya.

Hendarto Setiawan – Radar Lampung TV

METRO : Tangan renta ini, adalah tangan kaya pengalaman hidup. Melintasi ragam rezim pemerintahan dari Presiden Soeharto hingga Joko Widodo.

Terampil nan cekatan, saat melayani para pembeli jajanan tradisional di zaman milenial, di salah satu lapak Pasar Kreatif Tejo Agung, atau Pak Tejo, Kota Metro pada Ahad 21 Maret 2021.

Mengemas cenil kombinasi warna merah putih dalam wadah mika, menaburinya dengan cairan gula aren sebagai pemanis dan toping khas berupa parutan kelapa pilihan, muda tidak tuapun tidak..

Tangan perkasa inilah yang melewati masa masa sulit krisis ekonomi yang telah mewarisi resep turun menurun dari sang ibu.

Tangan dengan guratan urat yang nyata berbalut tipis kulit warna cokelat gelap ini adalah milik Sutakinah.

TANGGUH : Sutakinah (pakaian hitam) salah satu pedagang jajanan tradisional sedang melayani pesanan pembeli di Pasar Kreatif Pak Tejo.

Perempuan usia 65 tahun ini adalah salah satu pelaku usaha ultramikro di Pasar Kreatif Tejo Agung, Kota Metro, Provinsi Lampung.

 

Mengenakan balutan kebaya dan hijab, tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Mengenakan sarung tangan, face shield atau pelindung wajah dan tentunya meminta setiap pembeli yang datang tetap menjaga jarak.

Saban Hari Sabtu dan Ahad, selain cenil, jajanan tradisionalnya seperti klepon dan tapai selalu sold out.

Makanan tradisional ini masih cocok di era milineal. Menjadi salah satu primadona pelanggan yang tak hanya datang dari kelurahan itu saja.

”Mulai dagang sejak pukul 6 pagi. Biasanya jam 9 sudah habis,” kata Sutakinah mengawali perkenalan seraya mengembangkan senyum.

berita menarik lainnya

4 COMMENTS

  1. Jadi inspirasi…bagi siapa saja, dimana dan kapan saja. Asal mau gerak, Allah kasih tunjuk jalan

  2. Denyut nadi perekeonomian, penopang tiang negara. Pelestarian keariban lokal di tengah moderinisasj. Dimana sebuah Negara seWajibnya hadir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULAR

Bakso Sony Memang 1345678910 (Tak Ada 2-Nya)

MENGIKUTI perkembangan kasus dugaan pengingkaran penggunaan mesin perekam transaksi (tapping box) oleh managemen Bakso Son HajiSony, sebagai upaya mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari...

berita terkait lainnya