Durian Runtuh

  • Share

DURIAN runtuh ada di mana-mana: di minyak goreng, di batu bara, minyak bumi, gas dan juga di

sekitar Anda: PCR plus antigen.

Di Amerika banyak yang marah akibat durian runtuh itu. Termasuk para anggota DPR –khususnya dari

Partai Demokrat.

Cara marah mereka itu cerdas sekali. Mereka langsung merancang sebuah UU baru yang disebut ”UU

Durian Runtuh”. Yakni berupa aturan baru di bidang perpajakan: akan ada pajak durian runtuh.

Para anggota DPR itu menghitung: betapa banyak perusahaan yang tiba-tiba untung besar hanya karena

keadaan. Termasuk akibat pandemi dan perang di Ukraina.

Perangnya di Ukraina tapi rakyat Amerika –atau di mana pun– yang ikut menderita. Harga-harga naik

drastis. Terutama harga bensin di Amerika dan minyak goreng di mana-mana.

Saya lihat daftar perubahan harga bensin di semua negara bagian di Amerika. Hampir semua sudah di atas

USD 5/galon. Hanya di lima negara bagian yang masih sedikit di bawah angka 5: Oklahoma, Kansas, dan

Texas. Yakni negara bagian yang menghasilkan minyak mentah. Itu pun sudah naik hampir dua kali lipat

dari sebelumnya.

 

Tentu biaya produksi minyak-mentah itu tidak naik. Pun biaya di kelapa sawit. Kalaupun naik tidak

banyak. Tapi harga jual barang-barang itu naik luar biasa.

Itulah durian runtuh. Tiba-tiba. Tidak disangka-sangka. Uang datang dalam jumlah besar.

Menurut rancangan UU tersebut selisih harga antara sebelum dan sesudah runtuh itulah yang dikenakan

pajak khusus. Sebesar lebih dari 50 persen. Tujuan utamanya bukan agar negara mendapat uang, tapi

untuk menekan harga di pasaran.

 

UU tersebut langsung tidak berlaku kalau harga durian runtuh itu sudah kembali normal.

Anda sudah tahu: rancangan UU seperti ini pasti ditentang oleh Partai Republik. Apa pun menyangkut

kenaikan pajak pasti ditentang. Tapi DPR lagi dikuasai Partai Demokrat.

 

Praktis seluruh rakyat Amerika kini terbebani oleh kenaikan harga bensin itu –mengingat kepemilikan

mobil di sana yang merata. Harga bensin saat ini sudah menyamai krisis energi di zaman Presiden Jimmy

Carter –yang membuatnya gagal menambah satu periode.

 

Sebenarnya ada pilihan lain di sana: pindah ke mobil listrik. Permintaan terhadap mobil listrik naik

sampai 39 persen. Tapi stok mobil listrik terbatas. Terutama untuk kelas bawah. Produksi mobil listrik

tidak bisa digenjot. Kelangkaan microchips belum teratasi sepenuhnya. Hingga sekarang.

 

Presiden Joe Biden bersikeras tidak mau membeli minyak dan gas dari Rusia. Ekonomi Rusia harus

dilumpuhkan. Bahkan Amerika tidak ”malu” menjalin kontak baru dengan musuh lamanya: Venezuela.

Rasanya Amerika akan menjadikan Venezuela sebagai pemasok baru minyak bumi.

 

Bagaimana dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab? Yang suka sohib tradisional Amerika?

Dua negara itu rupanya lagi ingin menekan Amerika. Mumpung ada momentum. Berbeda dengan Donald

Trump, Presiden Joe Biden memang tidak bersahabat dengan MbS –putra mahkota Mohamad bin Salman.

 

Ketegangan antara keduanya terjadi di tiga front: perang di Yaman, pembunuhan wartawan Jamal

Khashoggi, dan di hubungan baru mereka dengan Vladimir Putin yang mulai lebih akrab.

Saudi di zaman Joe Biden ini tidak lagi mendapat dukungan Amerika di perang Yaman.

Amerika juga langsung menyatakan MbS sebagai yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi di konsulat Saudi di

 

Ankara, Turki.

Tapi Amerika kini perlu menstabilkan harga bensin yang sudah keterlaluan. Dan MbS tahu itu. Maka di

samping bagaimana Amerika berdiplomasi ke Venezuela menarik juga diamati apa saja langkah Biden di

Arab Saudi.

Tentu minyak goreng tidak ada hubungannya dengan perang di Ukraina. Pasti akan banyak yang

menentang kalau ide pajak durian runtuh dikenakan juga di Indonesia.

Duriannya beda.

Runtuhnya beda.

Rezeki nomploknya yang sama. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari

Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.