Pertemuan dengan Jokowi Tanpa Ponsel, James Riady Ambil Foto Wefie

Para pemilik dan pimpinan media nasional yakni James Riyadi, Pemred Bisnis Indonesia (kaos putih), Bambang Harimurti (Tempo), Primus (Suara Pembaharuan), Dahlan Iskan, Don Bosco Salamun (SCTV) Suryo Pratomo (Pemred Metro TV), dan Ardiansyah berwefie usai pertemuan dengan Presiden Jokowi di Padang, Jumat (9/2). Foto Istimewa

radartvnews.com-Pertemuan terbatas antara Presiden Joko Widodo dengan delapan pimpinan dan pemilik media nasional penuh keakraban.

Pertemuan yang digelar presiden usai menghadiri puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang Sumatera Barat, Jumat (9/2), ternyata sangat terbatas. Bahkan ponsel pun tak diperkenankan dibawa masuk ke ruangan pertemuan.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Mercure Padang itu antara lain dihadiri Dahlan Iskan, Suryo Pratomo (Metro TV), Don Bosco Salamun (SCTV), James Riady pemilik sejumlah media dan pengusaha. Lalu, Primus (Suara Pembaharuan), Bambang Harimurti (Tempo) serta Ardiansyah (pemimpin grup Radar Lampung).

Sedangkan presiden Jokowi tak didampingi satu orang pun baik staf maupun menteri dalam ruangan pertemuan tersebut.

“Pertemuan sangat penuh keakraban. Namun, sangat terbatas bahkan ponsel tidak diperkenankan dibawa masuk. Dititipkan ke Paspampres yang berjaga di depan ruangan,” ujar Ardiansyah, satu-satunya pimpinan media daerah yang hadir dalam pertemuan itu.

Namun, kata Bang Aca—sapaan akrabnya, sebelum pertemuan dirinya dan tujuh pemilik bisnis media nasional lainnya menyempatkan berswafoto bersama-sama alias wefie. Hal itu seperti tampak dari foto yang diterima radarlampung.co.id.

Tampak pimpinan 8 media itu berfoto bersama, dengan James Riady yang mengambil foto dengan posisi paling depan. “Ya benar, sempat foto wefie juga tadi,” kata Bang Aca.

Bang Aca mengatakan, dalam pertemuan dengan presiden terjadi diskusi hangat tentang perkembangan politik terkini dalam suasana santai.

Presiden juga menyinggung tentang berbagai isu dan fitnah yang menyerang pribadi dan keluarganya. Kata mantan GUbernur DKI Jakarta itu isu dan fitnah itu ternyata sedikit banyak dipercaya oleh masyarakat walau hanya sebagian kecil. Misalnya fitnah yang mengatakan dirinya sosok Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Bagaimana mungkin saya dibilang PKI. Saat G30 S PKI saya masih berusia 4 tahun. Mana ada PKI balita,” ujar Jokowi sambil tertawa

Isu lain yang ditujukan kepada dirinya, adalah bahwa Jokowi antek China karena dirinya melakukan kerjasama dengan China. Saat melakukan kerjasama dengan Amerika maka diisukan antek Barat. “Nah, saat saya ke Afghanistan. Nggak ada tuh yang mengatakan saya antek Arab,” ungkap Jokowi terus tertawa terkekeh-kekeh.

Karena itu, Jokowi ingin sekali pers bisa mendudukan dan menjelaskan masalah dengan sebenarnya.

Pertemuan berlangsung lebih kurang 30 menit di salah satu ruangan sempit berukuran 2,5 x 4 meter. Ruangan yang hanya bisa menampung untuk 10 orang.
Perbincangan juga menyinggung soal ekonomi.

Khusus ekonomi, presiden membahas terkait dengan penataan daerah-daerah yang berbasis tentang kultur adat istiadat. Termasuk diantaranya yang akan dilakukan di daerah Sumatera Barat. (RNN/ JF)

Menurut Kamu Bagaimana