Terduga Teroris Lampung, Mengamuk di Mal dan Rajin Terima Paket

Terduga Teroris Lampung, Mengamuk di Mal dan Rajin Terima Paket

radartvnews.com- Terduga teroris Rinto alias Putra Syuhada yang diamankan Densus 88 Anti Teror di Kelurahan Penengahan, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung dikenal masyarakat sebagai sosok yang tertutup.

Menurut Suparianto, kepala lingkungan 02 penengahan raya,

Rinto  sempat menghilang sekitar 6 bulan lalu setelah terjerat kasus hukum karena mengamuk di sebuah toko perbelanjaan Kota Bandar Lampung.

Saat itu dia pergi dengan adiknya ke pulau jawa dengan mengendarai sepeda motor. Namun, setelah pulang ke rumah terlihat perilaku aneh dari dirinya yang  sering beradu argumen dengan orang tuanya terkait kepercayaan agama yang dianut serta dilakukan oleh orang tuanya dan dirinya.

“dia (Rinto) dengan adiknya perki ke jawa naik sepeda motor, namun setelah pulang ke rumah terlihat perilaku aneh dari dirinya yang  sering beradu argumen dengan orang tuanya terkait agama,” jelas Suparianto.

Maih kata Suparianto,Rinto sempat mendapatkan beberapa pengiriman paket yang diduga bahan peledak ke rumahnya. “dia sering terima paket,” imbuh Sauparianto

Sementara, Kabid Humas Polda Lampung Kombes Sulistyaningsi menjelaskan penanganan kasus terduga teroris ini telah diambil alih sepenuhnya oleh Mabes Polri.  Dengan adanya penangkapan yang dilakukan oleh tim Densus 88 beberapa hari lalu (9/3) pengamanan di seluruh Kantor Kepolisian di wilayah Hukum Polda Lampung ikut di perketat.

“saat ini sudah ditangani mabes polri, memang betul polda lampung kita yang bertanggungjawab kita imbau masyarakat tidak takut polisi akan jaga terlebih menjelang pemilu kita tetap siaga,” kata Sulistyaningsih.  

Bersamaan dengan penangkapan Rinto di Lampung, Tim Densus 88 Mabes Polri  mengamankan P-K alias S-S di Kalimantan Barat dari keduanya  polisi mengamankan bom rakitan jenis pipa (paralon) dan bom kaleng.

Diketahui keduanya merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang merupakan bagian dari sel tidur atau sleeping cell jaringan teroris di Indonesia serta berencana melakukan aksi amaliyah atau serangan ke polisi.(ren/san)